Turateanews.com — Di tengah fenomena kelangkaan BBM, sulitnya memperoleh gas LPG, pemadaman listrik yang masih terjadi di sejumlah wilayah, krisis air bersih, hingga tekanan ekonomi rumah tangga, masyarakat Kabupaten Jeneponto tetap menjalani tradisi sosial yang telah mengakar kuat, yakni musim pesta yang berlangsung hampir setiap hari pasca Idul Adha dan musim haji, Senin.
Musim pesta di Kabupaten Jeneponto bukanlah hal baru. Setiap tahun, terutama setelah bulan Dzulhijjah, berbagai hajatan seperti pernikahan, sunatan, aqiqah, syukuran rumah baru, hingga beragam bentuk rasa syukur lainnya seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Dalam satu hari, tidak jarang terdapat beberapa pesta yang berlangsung secara bersamaan di berbagai desa dan kelurahan.
Bagi keluarga yang menggelar hajatan, momen tersebut tentu menjadi ruang kebahagiaan dan kesyukuran. Sanak keluarga, kerabat, sahabat, kolega dan tetangga berkumpul untuk mempererat silaturahmi serta berbagi doa bagi tuan rumah. Kehadiran para undangan menjadi simbol kuatnya ikatan sosial yang selama ini terpelihara dalam budaya masyarakat Turatea.
Namun di balik suasana kebersamaan tersebut, terdapat cerita lain yang juga menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat. Tradisi menghadiri pesta hampir selalu diiringi dengan pemberian amplop atau sumbangan kepada tuan rumah. Besaran sumbangan biasanya disesuaikan dengan kedekatan hubungan kekeluargaan, persahabatan, kolega, maupun hubungan emosional yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Dalam praktiknya, nilai sumbangan dapat bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Semakin dekat hubungan dengan pemilik hajatan, semakin besar pula perhatian yang biasanya diberikan.
Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya gotong royong masyarakat yang saling membantu dalam berbagai momentum kehidupan.
Menariknya, pada musim pesta kali ini, tradisi tersebut hadir bersamaan dengan berbagai tantangan yang tengah dihadapi masyarakat. Kelangkaan BBM yang menyebabkan antrean panjang berjam-jam di SPBU, harga LPG yang meningkat, pemadaman listrik, persoalan ketersediaan air bersih, hingga tekanan ekonomi keluarga menjadi realitas yang dirasakan sebagian warga dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak sedikit masyarakat yang harus mengatur kembali pengeluaran rumah tangga mereka. Di satu sisi kebutuhan pokok terus berjalan, sementara di sisi lain undangan hajatan datang hampir setiap hari. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat menghadiri tiga hingga lima pesta dalam sehari, bahkan lebih, sehingga membutuhkan pengeluaran tambahan yang tidak sedikit.
Meski demikian, sebagian besar masyarakat tetap berupaya menjaga tradisi silaturahmi tersebut. Bagi banyak warga Jeneponto, menghadiri undangan bukan sekadar memenuhi kewajiban sosial, tetapi juga bentuk penghormatan kepada keluarga, sahabat, dan kerabat yang sedang berbahagia. Karena itu, berbagai keterbatasan yang ada sering kali tidak mengurangi semangat untuk tetap hadir dan berbagi kebahagiaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah berbagai tantangan kehidupan, masyarakat Jeneponto masih memegang teguh nilai kebersamaan, solidaritas, dan kekeluargaan. Musim pesta tidak hanya menjadi perayaan kebahagiaan bagi pemilik hajatan, tetapi juga cerminan kuatnya ikatan sosial yang terus hidup di tengah masyarakat.
Di balik antrean BBM yang mengular, harga kebutuhan yang terus menjadi perhatian, serta berbagai persoalan ekonomi yang dirasakan banyak keluarga, tradisi saling mengunjungi dan saling mendukung tetap menjadi energi sosial yang menjaga harmoni kehidupan masyarakat Turatea. Sebuah potret yang memperlihatkan bahwa kebersamaan sering kali menjadi kekuatan terbesar ketika masyarakat menghadapi berbagai ujian kehidupan. (*)










