Turateanews.com, — Kain Tope sebagai salah satu warisan budaya dan wastra tradisional Kabupaten Jeneponto mendapat perhatian dalam kegiatan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penelitian bertajuk “Model Pengembangan Wastra Tradisional Berbasis Heritage Based Economy sebagai Strategi Ketahanan Sosial-Ekologis di Provinsi Sulawesi Selatan.”
Kegiatan riset tersebut dilaksanakan di Kabupaten Gowa dan Kabupaten Jeneponto. Khusus di Jeneponto, tim riset BRIN melakukan wawancara dan kunjungan ke Rumah Jabatan Bupati Jeneponto, Ahad (16/8/2026), dan bertemu dengan Ketua Dekranasda Kabupaten Jeneponto, Hj. Salmawati Paris.
Tim riset dipimpin oleh Prof Dr. Hj. Mujizatullah, dengan anggota Amiruddin, S.Ag., M.Pd., Israpil, S.Sos., M.Pd., Dr. Nurhayati Azis, S.E., M.Si., dan Dr. Suryani Jihad, S.Pd., M.Pd.
Kunjungan tersebut secara khusus membahas keberadaan, perkembangan, kebijakan, serta upaya pelestarian dan pengembangan Kain Tope Jeneponto sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.
Sebelum melakukan pertemuan dengan Ketua Dekranasda, tim BRIN juga telah melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara dengan sejumlah pengrajin Kain Tope di beberapa wilayah, di antaranya Kecamatan Bontoramba, Kecamatan Kelara.
Dalam wawancara tersebut, tim peneliti menggali berbagai informasi terkait kondisi pengrajin, proses produksi, tantangan yang dihadapi, keberlanjutan bahan baku, hingga peluang pengembangan Kain Tope dalam perspektif ekonomi, sosial dan ekologis.
Dekranasda Dorong Promosi dan Penggunaan Kain Tope
Ketua Dekranasda Kabupaten Jeneponto, Salmawati Paris, menyampaikan berbagai langkah yang selama ini telah dilakukan Dekranasda dalam mendukung keberadaan dan pengembangan Kain Tope.
Menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas promosi Kain Tope melalui berbagai kegiatan pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional.
“Dekranasda sampai hari ini terus berupaya memperkenalkan Kain Tope melalui pameran-pameran, baik lokal maupun nasional.
Kami ingin masyarakat di luar Jeneponto juga semakin mengenal bahwa kita memiliki kain tradisional yang memiliki karakter dan nilai budaya tersendiri,” ujar Salmawati.
Selain promosi, Dekranasda juga mendorong penggunaan Kain Tope di lingkungan pemerintahan. Pada momentum Hari Jadi Jeneponto, Ketua Dekranasda mengeluarkan instruksi untuk mendorong penggunaan Kain Tope oleh unsur Forkopimda dan jajaran perangkat daerah sebagai bentuk kecintaan sekaligus upaya memperkenalkan wastra lokal.
Upaya lainnya adalah memberikan dukungan sarana produksi kepada kelompok pengrajin melalui bantuan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) melalui Bantuan Provinsi Sulsel.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi para pengrajin sekaligus menjaga keberlangsungan keterampilan menenun yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam pertemuan tersebut, tim peneliti BRIN juga memberikan sejumlah masukan strategis untuk pengembangan Kain Tope ke depan.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah mendorong agar keterampilan dan pengetahuan mengenai wastra tradisional, termasuk Kain Tope, dapat diperkenalkan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Langkah tersebut dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan dunia tenun kepada generasi muda sejak dini, sekaligus membuka perspektif bahwa keterampilan tradisional dapat dikembangkan menjadi peluang usaha dan ekonomi kreatif.
Dengan demikian, pelestarian Kain Tope tidak hanya berhenti pada menjaga tradisi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi menciptakan generasi muda yang memiliki keterampilan, kreativitas dan jiwa kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Kain Tope Diharapkan Semakin Dikenal
Kegiatan kunjungan dan wawancara ini turut dihadiri Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Jeneponto, Dr. Siti Meriam, bersama pengurus TP PKK dan pengurus Dekranasda Kabupaten Jeneponto.
Tim BRIN nantinya akan mengolah berbagai data dan informasi yang diperoleh dari hasil FGD, wawancara dengan pengrajin, serta pertemuan dengan pemangku kepentingan untuk kemudian disusun menjadi hasil riset yang akan diinformasikan sebelum dipaparkan dalam seminar.
Ketua Dekranasda Kabupaten Jeneponto berharap riset BRIN tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan Kain Tope.
“Harapan kita, Kain Tope bukan hanya dikenal sebagai kain tradisional Jeneponto, tetapi bisa semakin dikenal secara luas, memiliki ciri khas dan karakter tersendiri, serta mampu memberikan nilai tambah bagi para pengrajin dan masyarakat,” harap Hj. Salmawati.
Riset BRIN ini menjadi momentum penting untuk melihat Kain Tope bukan sekadar produk budaya, tetapi sebagai aset heritage yang memiliki potensi ekonomi, sosial dan ekologis.
Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, Dekranasda, pengrajin, dunia pendidikan, BRIN dan berbagai pihak terkait, Kain Tope diharapkan mampu tumbuh menjadi salah satu identitas budaya Jeneponto sekaligus sumber kekuatan ekonomi kreatif masyarakat.
Dari warisan leluhur, menuju ekonomi masa depan. Kain Tope, identitas Jeneponto yang layak dikenal Indonesia. (“)










