Dari Gantala Jarang ke Steak Daging Kuda, Inikah Wajah Baru Kuliner Turatea?

Senin, 7 September 2026 - 07:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Turateanews.com — Jeneponto bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil daging kuda, tetapi juga memiliki tradisi kuliner berbahan daging kuda yang telah melekat kuat dalam kehidupan masyarakat.

Dari coto kuda, konro kuda, hingga gantala jarang sebagai salah satu menu tradisional yang sangat khas, pegawai daging kuda telah menjadi bagian dari identitas kuliner Turatea yang terus berkembang mengikuti selera zaman, Minggu (7/9/2026).

Gantala jarang sendiri memiliki cerita panjang dalam tradisi kuliner masyarakat Jeneponto. Dahulu, menu ini lebih banyak dijumpai dalam berbagai acara pesta, hajatan atau pagelaran budaya sebagai salah satu sajian istimewa bagi para tamu. Namun, perkembangan selera masyarakat dan semakin terbukanya pasar kuliner membuat gantala jarang kini mulai lebih mudah dijumpai di sejumlah warung dan rumah makan di Kabupaten Jeneponto.

Kekayaan kuliner tersebut kini semakin beragam. Daging kuda tidak lagi hanya hadir dalam sajian tradisional, tetapi telah diolah menjadi sate kuda, dendeng kuda, abon kuda hingga berbagai produk pangan yang dikemas lebih modern dan menyasar pasar yang lebih luas.

Berbagai produk olahan tersebut bahkan kini dapat dijumpai di Galeri Oleh-Oleh Dekranasda Kabupaten Jeneponto. Kehadiran galeri tersebut menjadi salah satu ruang penting bagi promosi produk UMKM lokal, tidak hanya untuk olahan daging kuda, tetapi juga berbagai produk unggulan dan kerajinan masyarakat Jeneponto lainnya.

Salah satu perkembangan menarik terlihat dari produk dendeng kuda yang mulai dikemas secara lebih profesional oleh pelaku UMKM. Produk tersebut tidak hanya menjadi buah tangan khas Jeneponto, tetapi juga telah dipasarkan melalui berbagai outlet dan menjangkau konsumen di luar daerah.

Di tengah perkembangan tersebut, muncul satu sajian yang menawarkan pengalaman berbeda, yakni steak daging kuda.

Olahan ini menghadirkan daging kuda dalam bentuk yang lebih modern dengan teknik penyajian yang akrab bagi lidah masyarakat masa kini. Daging disajikan sebagai steak bakar, kemudian ditemani kentang goreng serta berbagai pelengkap dan topping yang membuat tampilannya semakin menarik.

Konsep tersebut menjadi salah satu inovasi kuliner yang diperkenalkan Warung Meyca salah satu usaha catering yang cukup dikenal di Jeneponto.

Steak daging kuda menjadi bagian dari upaya menghadirkan kuliner khas daerah dalam format yang lebih kekinian tanpa meninggalkan bahan utama yang menjadi identitas Jeneponto.

Menariknya, sajian tersebut tidak hanya diperkenalkan sebagai menu biasa. Dalam sejumlah kesempatan, termasuk kegiatan pameran PKK tingkat provinsi, olahan daging kuda turut menjadi bagian dari sajian yang memperkenalkan kekayaan kuliner Jeneponto kepada masyarakat yang lebih luas.

Steak daging kuda juga kerap hadir dalam jamuan bagi para tamu yang berkunjung ke Jeneponto. Bahkan dalam sejumlah momentum kunjungan pejabat dan kepala daerah, sajian berbahan daging kuda menjadi salah satu kuliner yang diperkenalkan sebagai bagian dari pengalaman menikmati cita rasa khas Turatea.

Salah satu momen yang menarik perhatian terlihat ketika Bupati Bantaeng Uji Nurdin menikmati sajian daging kuda dalam sebuah jamuan di Rumah Jabatan Bupati Jeneponto. Kehadiran sajian tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kuliner lokal dapat menjadi bagian dari diplomasi rasa dalam menyambut tamu daerah.

Bagi sebagian masyarakat dan pelancong, menikmati daging kuda di Jeneponto bukan sekadar urusan rasa. Ada pengalaman budaya yang ikut menyertainya. Sebab, kuliner kuda telah tumbuh bersama tradisi masyarakat dan menjadi salah satu identitas yang membedakan Jeneponto dari daerah lainnya.

Tradisi tersebut bahkan berkembang hingga pada produk yang selama ini dikenal masyarakat sebagai minyak kuda. Produk ini secara tradisional digunakan oleh sebagian masyarakat untuk keperluan pengobatan luar, termasuk pada luka atau memar, dan masih banyak diminati karena dipercaya memiliki khasiat tertentu. Penggunaannya tetap perlu memperhatikan keamanan dan tidak menggantikan penanganan medis yang terbukti efektif.

Perjalanan kuliner daging kuda Jeneponto menunjukkan bahwa sebuah tradisi tidak harus berhenti pada bentuk lama. Coto kuda, konro kuda, gantala jarang, sate, dendeng dan abon merupakan jejak panjang kuliner yang telah hidup di tengah masyarakat, sementara steak daging kuda menjadi salah satu wajah baru yang mencoba membawa tradisi tersebut ke meja makan generasi kekinian.

Yang menarik, steak daging kuda memiliki kekuatan pada cara penyajiannya. Ketika potongan daging bakar dipadukan dengan kentang goreng dan aneka pelengkap, sajian tersebut tidak lagi terlihat sebagai makanan tradisional yang hanya dikenal oleh kalangan tertentu, tetapi berubah menjadi menu yang secara visual dan rasa lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Respons para tamu yang mencicipinya pun menjadi cerita tersendiri. Banyak yang memberikan apresiasi terhadap cita rasa dan konsep penyajiannya, bahkan menjadikan stik daging kuda sebagai salah satu sajian yang dinantikan ketika berkunjung dalam sebuah jamuan.

Pada titik inilah perkembangan kuliner daging kuda Jeneponto menjadi menarik. Tradisi yang dahulu kuat berada di ruang-ruang pesta dan acara tertentu, kini perlahan bergerak menuju ruang ekonomi kreatif yang lebih terbuka. Gantala jarang mulai hadir di warung dan rumah makan, sementara dendeng, abon dan berbagai olahan lainnya bergerak menjadi produk UMKM yang dapat dibawa pulang.

Galeri Oleh-Oleh Dekranasda Kabupaten Jeneponto kemudian menjadi salah satu etalase yang mempertemukan kekayaan tersebut dengan para pengunjung. Di tempat ini, wisatawan dan masyarakat dapat menemukan berbagai produk UMKM Jeneponto, termasuk beragam olahan pangan yang merepresentasikan potensi lokal.

Di sinilah peluang besar kuliner daging kuda Jeneponto sebenarnya berada. Tradisi yang sudah kuat dapat dikembangkan menjadi produk gastronomi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus menjadi bagian dari promosi pariwisata daerah.

Steak daging kuda menjadi salah satu contoh bahwa kuliner khas daerah bisa tampil dengan wajah baru. Ia membawa cita rasa Turatea ke dalam bentuk yang lebih modern, menarik dan mudah dikenalkan kepada generasi muda maupun para pelancong. (*)

Berita Terkait

Antara Antrean BBM dan Amplop Undangan, Potret Ketangguhan Masyarakat Turatea
DPRD CUP I Resmi Bergulir, Semangat Persaudaraan dan Prestasi Menggema dari Lapa Eja Tarowang
Kapolsek Kelara Perkuat Silaturahmi, Ajak Jamaah Bersinergi Jaga Kamtibmas
Antrean BBM Belum Terurai, Publik Mempertanyakan Solusi Darurat
Sungguh Miris, Saya Menyaksikan Guru SD Menjelang Pensiun Harus Antre Urutan 120 Demi 2 Liter Pertalite
Semarakkan HUT ke-49, BKPRMI Jeneponto Gelar Donor Darah di Lokasi Car Free Day
TDA Jeneponto Siapkan Ekosistem Pengusaha Bertumbuh Melalui Kickoff Kepengurusan 9.0
Disdikbud Jeneponto Gelar Rakor Lintas Sektor Matangkan Raperbup Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 11:01 WIB

Antara Antrean BBM dan Amplop Undangan, Potret Ketangguhan Masyarakat Turatea

Selasa, 15 September 2026 - 09:14 WIB

DPRD CUP I Resmi Bergulir, Semangat Persaudaraan dan Prestasi Menggema dari Lapa Eja Tarowang

Selasa, 15 September 2026 - 09:07 WIB

Kapolsek Kelara Perkuat Silaturahmi, Ajak Jamaah Bersinergi Jaga Kamtibmas

Selasa, 15 September 2026 - 07:45 WIB

Antrean BBM Belum Terurai, Publik Mempertanyakan Solusi Darurat

Senin, 14 September 2026 - 11:54 WIB

Sungguh Miris, Saya Menyaksikan Guru SD Menjelang Pensiun Harus Antre Urutan 120 Demi 2 Liter Pertalite

Berita Terbaru