Turateanews.com — Ribuan masyarakat memenuhi Stadion Mini Turatea, Kabupaten Jeneponto, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Jeneponto, Kamis, 3 September 2026.
Kehadiran dai kondang nasional, Dr. Das’ad Latif, menjadi magnet tersendiri dan membuat suasana Maulid berlangsung semarak, penuh hikmah, sekaligus diselingi humor yang mengundang tawa dan tepuk tangan jamaah.
Peringatan Maulid tersebut dihadiri langsung Bupati Jeneponto Paris Yasir, Wakil Bupati Islam Iskandar, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Sekda Jeneponto, para kepala perangkat daerah, ASN, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ribuan warga yang memadati hampir seluruh area Stadion Mini Turatea.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada satu pesan kuat yang disampaikan Dr. Das’ad Latif sejak awal tausiyahnya dan langsung menyentuh persoalan kepemimpinan daerah.
Ia mengingatkan agar para pemimpin daerah senantiasa menjaga hubungan yang harmonis dan tidak terjebak dalam konflik kepentingan maupun perpecahan.
“Jangan pernah Bombe,” pesan Das’ad Latif.
Dalam bahasa Makassar, *Bombe* dapat dimaknai sebagai bermusuhan, berselisih atau pecah kongsi. Menurutnya, keharmonisan antara kepala daerah menjadi salah satu fondasi penting dalam menjalankan pemerintahan.
Sebab, kata dia, ketika pemimpin tidak harmonis, yang akan mengalami kebingungan bukan hanya jajaran pemerintahan, tetapi juga para kepala dinas, pejabat daerah hingga masyarakat.
“Kalau pemimpinnya tidak harmonis, yang bingung itu kepala dinas, pejabat dan akhirnya masyarakat juga ikut bingung,” demikian pesan yang disampaikan dalam tausiyahnya.
Pernyataan tersebut sontak disambut riuh tepuk tangan ribuan jamaah yang hadir.
Das’ad menegaskan, keberhasilan pembangunan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh program dan anggaran, tetapi juga oleh kemampuan para pemimpinnya membangun komunikasi, menjaga kekompakan dan menghadirkan suasana pemerintahan yang harmonis.
Pemimpin rukun, pemerintahan tenang, masyarakat pun lebih mudah merasakan kebahagiaan.
Pesan itu menjadi salah satu bagian paling menarik dalam tausiyah Maulid Nabi di Jeneponto malam tersebut.
“Semua Manusia Punya Masalah, Kuncinya Salat”
Tidak berhenti pada persoalan kepemimpinan, Das’ad Latif juga mengajak seluruh jamaah bercermin kepada kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Menurutnya, tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Bahkan Rasulullah pun menjalani kehidupan yang penuh ujian dan persoalan.
Perbedaannya, Rasulullah memberikan teladan bagaimana menghadapi dan menyelesaikan persoalan dengan keimanan, kesabaran serta kedekatan kepada Allah SWT.
Karena itu, Das’ad Latif memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya menjaga salat.
Ia bahkan mendorong agar kepala daerah memiliki keberanian untuk memastikan aktivitas pemerintahan tidak mengabaikan kewajiban salat ketika waktunya telah tiba.
“Kalau perlu Bupati dan Wakil Bupati mengeluarkan instruksi, kalau sudah masuk waktu salat, seluruh aktivitas dihentikan. ASN pergi salat berjamaah,” pesan Das’ad Latif.
Menurutnya, kedisiplinan menjalankan salat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga bagian dari upaya membangun ketenangan hidup dan kekuatan moral seorang pemimpin maupun masyarakat.
Ia mengajak jamaah untuk tidak hanya mencari solusi atas persoalan kehidupan melalui kemampuan manusia, tetapi juga membangun hubungan yang kuat dengan Allah SWT.
Masalah boleh datang silih berganti, tetapi jangan sampai salat ikut berhenti.
Pesan tersebut menjadi salah satu inti tausiyah yang disampaikan Das’ad Latif di hadapan ribuan jamaah.
Kehadiran Dr. Das’ad Latif di Jeneponto juga menjadi momentum yang dinantikan masyarakat. Sosok dai nasional yang dikenal mampu menyampaikan pesan keagamaan secara lugas, kritis dan jenaka itu berhasil menghidupkan suasana Stadion Mini Turatea.
Tawa jamaah beberapa kali pecah di sela-sela tausiyah. Namun di balik gaya penyampaiannya yang ringan, Das’ad tetap menyelipkan pesan-pesan serius tentang agama, kepemimpinan, kehidupan sosial dan tanggung jawab manusia kepada Allah SWT.
Ia mengingatkan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari masalah dan keinginan.
Selalu ada persoalan yang harus diselesaikan, selalu ada cita-cita yang ingin dicapai dan selalu ada ujian yang datang dalam kehidupan.
Karena itu, menurutnya, manusia harus belajar dari keteladanan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan memperkuat keimanan, berserah diri kepada Allah SWT dan tetap menjaga salat.
“Jangan takut menghadapi masalah. Yang penting dekat dengan Allah, teladani Rasulullah dan jangan tinggalkan salat,” menjadi pesan yang mengemuka dalam tausiyah tersebut.
Peringatan Maulid Nabi di Stadion Mini Turatea akhirnya bukan sekadar menjadi perayaan keagamaan yang dihadiri ribuan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang bagaimana membangun kehidupan pemerintahan dan masyarakat yang lebih harmonis.
Dan satu pesan Das’ad Latif malam itu terasa sangat sederhana, tetapi cukup dalam untuk direnungkan:
Pemimpin jangan Bombe. Masyarakat jangan ikut terpecah. Salat jangan ditinggalkan. Sebab ketika pemimpin rukun, pemerintahan berjalan tenang, dan ketika manusia dekat dengan Allah, sebesar apa pun masalah akan selalu memiliki jalan keluar. (*)










