Turateanews.com — Kelurahan Empoang Selatan kini bertransformasi menjadi pelopor pengelolaan lingkungan yang inovatif dan berkelanjutan melalui program unggulan PASTI BAHAGIA, Pemanfaatan TPS3R untuk Inovasi Plastik Jadi Paving.
Inovasi ini tidak hanya menyelesaikan masalah sampah plastik yang menumpuk, tetapi juga menghidupkan kembali fasilitas yang sempat terbengkalai dan membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Selama ini, tumpukan sampah plastik di Kelurahan Empoang Selatan dan sekitarnya menjadi masalah yang terus tumbuh. Fasilitas pengelolaan sampah TPS3R yang seharusnya menjadi solusi justru terbengkalai tidak berfungsi.
Ditambah lagi, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan bahaya sampah plastik yang mencemari tanah serta air masih perlu ditingkatkan.
Melihat kondisi tersebut, Ibu Taruni Karmila, SE, Lurah Empoang Selatan bersama seluruh elemen masyarakat bergerak. “Kita tidak bisa membiarkan sampah plastik terus mengganggu kenyamanan dan kesehatan kita. Harus ada solusi yang tidak sekadar mengurangi sampah, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi warga,” ungkapnya.
PASTI BAHAGIA hadir dengan solusi yang sederhana namun berdampak besar: menghidupkan kembali TPS3R, memilah sampah plastik dari sumbernya, dan mengolahnya menjadi paving yang bermanfaat serta bernilai ekonomi.
Program ini mengajak seluruh elemen — rumah tangga, sekolah, instansi, warung, hingga rumah makan — untuk bersama-sama memilah sampah plastik. Plastik yang terkumpul dikumpulkan di TPS3R yang telah direvitalisasi, lalu diolah menjadi paving blok yang kuat dan dapat digunakan untuk jalan, halaman, maupun dijual.
Pelaksanaan PASTI BAHAGIA dilakukan secara terstruktur dan melibatkan banyak pihak:
– Revitalisasi TPS3R agar kembali berfungsi optimal
– Pembentukan tim pelaksana yang solid dan berkomitmen
– Sosialisasi menyeluruh ke seluruh warga dan lembaga untuk pemilahan sampah dari sumbernya
– Pemilahan & pengumpulan sampah plastik rutin melalui kerja bakti dan penjemputan terjadwal
– Pencatatan transparan jumlah sampah plastik yang masuk ke TPS3R
– Pengolahan sampah plastik menjadi paving dengan melibatkan warga dan kepala lingkungan
Sejak digulirkan, PASTI BAHAGIA telah membawa perubahan luar biasa di Kelurahan Empoang Selatan :
– Lingkungan Lebih Bersih dan Indah — Warga yang dulunya jarang berpartisipasi menjaga kebersihan, kini rutin melaksanakan kerja bakti dan memilah sampah dari rumah. Tumpukan sampah plastik berkurang drastis.
– TPS3R Kembali Hidup — Fasilitas yang sempat terbengkalai kini menjadi pusat kegiatan warga, tempat belajar, dan pusat pengolahan sampah yang bermanfaat.
– Kesadaran Masyarakat Meningkat — Pemahaman tentang bahaya sampah plastik dan pentingnya pemilahan sampah tumbuh pesat. Warga sadar bahwa sampah plastik bukan sampah yang tidak berguna, melainkan bahan baku yang berharga.
– Ekonomi Warga Tumbuh — Paving hasil olahan sampah plastik bernilai jual. Hasil penjualan digunakan untuk biaya operasional TPS3R dan meningkatkan pendapatan warga yang terlibat. Keterampilan warga dalam mengolah sampah menjadi produk bernilai juga terus berkembang.
“Kami tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menumbuhkan semangat gotong royong dan kemandirian. Setiap keping paving yang dihasilkan adalah bukti bahwa sampah bisa berubah menjadi berkah.”
Taruni Karmila, SE, Lurah Empoang Selatan
PASTI BAHAGIA tidak berhenti di paving plastik. Rencana pengembangan ke depan semakin luas dan inspiratif, Mendirikan Bank Sampah Plastik — menjamin ketersediaan bahan baku dan membuka peluang tabungan sampah bagi warga
Mengembangkan Produk Olahan Baru bahan bakar alternatif, kerajinan tangan bernilai seni, serta pemanfaatan sampah organik untuk maggot dan pupuk organik
Pemanfaatan Lahan Sekitar TPS3R mengembangkan hutan kota dan lahan pertanian bersama Kelompok Tani untuk ketahanan pangan warga
“Sampah plastik bukan musuh yang harus dibuang sembarangan. Ia adalah bahan baku yang menunggu tangan-tangan kreatif untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bersama PASTI BAHAGIA, mari kita wujudkan lingkungan yang bersih, masyarakat yang mandiri, dan Jeneponto yang bahagia.” (*)










