Literasi, Jalangkote dan Masa Depan Anak Turatea

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:22 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Turateanews.com — Pagi yang cerah di kawasan Car Free Day (CFD) Taman Turatea, Simpang Lima Kabupaten Jeneponto, Ahad, 4 Oktober 2026, menghadirkan sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna.

Di tengah keramaian warga yang berolahraga, berburu kuliner, dan menikmati akhir pekan, Taman Baca Masyarakat (TBM) Pajeka membuka lapak baca dalam kegiatan yang diberi nama (Geliat) Gerakan Literasi Anak Turatea.

Di antara deretan buku yang tertata di lapak baca itu, terdapat sebuah kisah menarik yang tanpa sengaja mempertemukan dua dunia yang tampaknya berbeda : literasi dan jalangkote.

Banyak orang mungkin bertanya, apa hubungan antara literasi dan jalangkote? Secara langsung, tentu keduanya tidak memiliki hubungan hierarkis yang kuat. Namun di lapangan, keduanya justru bertemu dalam sebuah ruang yang sangat manusiawi: ruang belajar, ruang pengalaman, dan ruang kehidupan sehari-hari.

Tepat di samping lapak baca TBM Pajeka, seorang anak perempuan bernama Syifa sibuk menjajakan jalangkote buatan neneknya.

Siswi kelas V sekolah dasar di salah satu desa di Kecamatan Batang itu untuk pertama kalinya datang ke CFD Jeneponto. Bersama temannya, ia menawarkan jalangkote dengan penuh semangat kepada para pengunjung.

Menariknya, di sela-sela aktivitas berjualan, Syifa beberapa kali mendekati lapak baca dan mengambil buku untuk dibaca. Ia menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap buku-buku yang tersedia.

Dalam perbincangan yang hangat, Syifa juga mampu menjelaskan dengan lancar bahan-bahan yang digunakan dalam jalangkote yang dijualnya.

Menurutnya, jalangkote buatan sang nenek berisi telur, mi, wortel, dan ubi dengan cita rasa gurih serta renyah. Harganya pun sangat bersahabat, hanya seribu rupiah per buah. Penjelasan sederhana yang disampaikan Syifa sesungguhnya menunjukkan bahwa proses literasi tidak selalu lahir dari ruang kelas atau buku pelajaran semata.

Kemampuan seorang anak menjelaskan produk yang dijualnya, mengenali bahan-bahannya, memahami rasa dan manfaatnya, hingga mampu berkomunikasi kepada calon pembeli adalah bagian dari praktik literasi dalam kehidupan nyata.

Literasi pada hakikatnya bukan sekadar kemampuan membaca huruf demi huruf. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengolah pengalaman, berkomunikasi, dan memaknai dunia di sekitar kita.

Ketika Syifa menjelaskan jalangkote yang dijualnya, sesungguhnya ia sedang mempraktikkan literasi. Pengetahuan itu mungkin ia peroleh dari mendengar cerita neneknya, mengamati proses pembuatan, mencicipi langsung hasilnya, atau dari berbagai pengalaman lain yang membentuk pemahamannya.

Di titik inilah jalangkote dan literasi bertemu.
Jalangkote menjadi medium pembelajaran. Sementara literasi menjadi jembatan yang membantu seorang anak memahami dan menjelaskan apa yang ia ketahui kepada orang lain.

Fenomena menarik lainnya terlihat dari antusiasme anak-anak yang mengunjungi lapak baca TBM Pattiro Jeka.

Beberapa datang bersama orang tua mereka. Ada yang sekadar membuka-buka buku, ada pula yang begitu larut dalam bacaan hingga enggan meninggalkan lokasi.

Salah satu pengunjung yang hadir adalah seorang komisioner Bawaslu Kabupaten Jeneponto yang mendampingi anaknya berkunjung ke CFD. Menurutnya, sang anak yang bersekolah di SD Balang 2 sudah terbiasa mengunjungi perpustakaan daerah yang berada tidak jauh dari sekolahnya.

Kebiasaan itu ternyata membentuk pola pikir yang menarik. Ketika datang ke CFD, salah satu tempat yang ingin dikunjungi anak tersebut bukan hanya arena permainan atau pusat jajanan, melainkan lapak baca.

Ini menunjukkan bahwa budaya membaca yang ditanamkan sejak dini dapat melahirkan kesadaran baru dalam diri anak. Mereka mulai melihat buku sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban sekolah.

Pemandangan lain yang tidak kalah mengesankan terlihat ketika dua anak perempuan harus bernegosiasi dengan ibunya yang hendak pulang. Sang ibu telah membeli berbagai jajanan dan ingin segera kembali ke rumah. Namun kedua anak tersebut masih ingin bertahan beberapa menit lagi untuk melanjutkan membaca.

Meskipun akhirnya mereka harus meninggalkan lokasi lebih cepat dari yang diharapkan, peristiwa kecil itu menyampaikan pesan besar bahwa ketika minat baca mulai tumbuh, anak-anak akan mencari ruang untuk memenuhi rasa ingin tahunya.

Karena itu, kehadiran lapak baca di ruang publik seperti CFD memiliki nilai strategis. Buku tidak lagi menunggu anak-anak di rak perpustakaan, melainkan hadir mendekati mereka di tengah aktivitas sehari-hari.

Gerakan Literasi Anak Turatea yang digagas TBM Pajeka memperoleh dukungan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jeneponto.

Dukungan tersebut menjadi sinyal bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui investasi sosial berupa penguatan budaya literasi.

Anak-anak yang membaca hari ini adalah pemuda yang akan memimpin esok hari. Apa yang mereka baca, pahami, dan hayati saat ini akan membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengambil keputusan di masa depan.

Pegiat senior Pattiro Jeka, Suryani Hajar, memberikan perhatian khusus terhadap konsistensi pelaksanaan lapak baca di setiap CFD. Menurutnya, penguatan budaya literasi merupakan salah satu jalan penting untuk menghadirkan generasi yang berkarakter dan memiliki kepemimpinan yang baik.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting bagi kita semua. Banyak orang berbicara tentang krisis kepemimpinan, menurunnya etika publik, hingga tantangan sumber daya manusia di masa depan. Namun sering kali kita lupa bahwa solusi jangka panjangnya dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menghadirkan buku di tengah anak-anak dan memberi mereka ruang untuk mencintai membaca.

Dari sudut kecil CFD Jeneponto pagi itu, pelajaran besar dapat dipetik. Literasi ternyata tidak selalu hadir dalam seminar besar atau ruang akademik yang megah. Literasi bisa lahir dari percakapan sederhana tentang sebuah jalangkote. Literasi bisa tumbuh dari rasa ingin tahu seorang anak penjual jajanan tradisional. Literasi juga dapat berkembang ketika anak-anak memilih bertahan membaca beberapa menit lebih lama dibandingkan menikmati jajanan yang mereka bawa pulang.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi apa hubungan antara literasi dan jalangkote?.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: sudahkah kita menyediakan cukup ruang agar setiap anak di Turatea memiliki kesempatan untuk membaca, belajar, bermimpi, dan menulis masa depannya sendiri?

Jika jawabannya belum, maka lapak baca sederhana di sudut CFD Jeneponto ini sesungguhnya sedang mengingatkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. (*)

Berita Terkait

Literasi Jumat Pagi di SDIT Ulul Albab, Siswa Diajak Membaca sebagai Kegembiraan
Bunda PAUD Jeneponto Buka Bimtek Strategi Perluasan Akses dan Mutu Wajib Belajar Prasekolah
Penyuluh Agama KUA Kelara dan Pembina BKMT Hadiri Majelis Taklim Permata Nurul Jannah di Samataring
Dialog Kepemudaan Bangkala, Pemuda Berdaya untuk Masa Depan Daerah
Gelar Wicara Literasi Telusuri Jejak Lanto Daeng Pasewang, Pejuang Kemerdekaan dan Gubernur Sulawesi
Karya Kreatif SLB Negeri 2 Jeneponto Warnai Festival Literasi Dinas Perpustakaan Jeneponto 2026
Nantikan Jeneponto Craft & Fashion Festival 2026, Momentum Promosikan Kain Tope dan Produk Unggulan Daerah
Inovasi Rumput Laut Ratnasari Tarik Perhatian Guru Besar Jepang ke Makassar
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Literasi Jumat Pagi di SDIT Ulul Albab, Siswa Diajak Membaca sebagai Kegembiraan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Bunda PAUD Jeneponto Buka Bimtek Strategi Perluasan Akses dan Mutu Wajib Belajar Prasekolah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:45 WIB

Penyuluh Agama KUA Kelara dan Pembina BKMT Hadiri Majelis Taklim Permata Nurul Jannah di Samataring

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:38 WIB

Gelar Wicara Literasi Telusuri Jejak Lanto Daeng Pasewang, Pejuang Kemerdekaan dan Gubernur Sulawesi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Karya Kreatif SLB Negeri 2 Jeneponto Warnai Festival Literasi Dinas Perpustakaan Jeneponto 2026

Berita Terbaru

PAUS39

PAUS39

KEPITING78

KEPITING78

PAUS39

PAUS39