Turateanews.com — Gerakan gotong royong membersihkan lingkungan yang dipimpin langsung Lurah Empoang Selatan, Taruni Karmila, berhasil mengumpulkan 59 karung sampah plastik dalam beberapa hari, sejak Jumat hingga Minggu sore, 18 Oktober 2026. Sampah yang berasal dari sejumlah titik di Kelurahan Empoang Selatan, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, termasuk muara sungai dan Pantai Pannara, selanjutnya diangkut ke TPS3R untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving block berbahan sampah plastik.
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari anak-anak, para kader, orang tua, hingga warga umum. Bersama para kepala lingkungan dan aparat kelurahan, masyarakat bergerak membersihkan lokasi-lokasi yang selama ini terkonsentrasi sampah plastik, terutama di kawasan pesisir dan muara sungai.
Sampah yang terkumpul terdiri atas berbagai jenis limbah plastik, di antaranya botol bekas pelampung rumput laut, tali bentang, karung, kantong plastik, serta kemasan makanan dan minuman. Sebagian sampah tersebut merupakan limbah aktivitas masyarakat di kawasan pesisir dan kegiatan budidaya rumput laut yang terbawa atau tertinggal di sekitar pantai dan muara sungai.
Dalam kegiatan tersebut, keterlibatan warga menjadi kekuatan utama. Bahkan, ketika tersedia kendaraan pikap milik warga yang sedang tidak digunakan pada Minggu sore, kesempatan itu langsung dimanfaatkan untuk mengangkut sampah yang telah dikumpulkan menuju TPS3R Empoang Selatan. Sebanyak 59 karung sampah plastik pun berhasil dipindahkan untuk penanganan lebih lanjut.
Bagi Lurah Empoang Selatan, Taruni Karmila, kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang efektif untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan ekologi. Keterlibatan anak-anak bersama orang tua dan masyarakat umum diharapkan membangun kebiasaan menjaga kebersihan sejak dini.
Upaya tersebut juga semakin bermakna karena sampah plastik yang dikumpulkan memiliki tujuan pemanfaatan yang jelas. TPS3R Empoang Selatan kini menjadi lokasi pengolahan sampah plastik menjadi paving block, sehingga limbah yang sebelumnya mencemari lingkungan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Seiring mulai berjalannya produksi paving block, muncul pemahaman baru bahwa kebutuhan bahan baku ternyata cukup besar. Sampah plastik yang pada awalnya diperkirakan mudah ditemukan dan tersedia melimpah, dalam praktiknya masih membutuhkan upaya pengumpulan yang lebih intensif agar proses produksi dapat terus berjalan.
Kondisi ini justru menjadi motivasi baru bagi masyarakat untuk memperluas gerakan bersih-bersih lingkungan. Kegiatan memungut sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai upaya menghilangkan pencemaran, tetapi juga menjadi bagian dari penyediaan bahan baku untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif di TPS3R.
Dengan demikian, gotong royong masyarakat dan pengolahan sampah plastik mulai membentuk hubungan yang saling menguatkan. Lingkungan yang sebelumnya dipenuhi sampah menjadi lebih bersih, sementara limbah plastik yang terkumpul dapat dimanfaatkan kembali melalui proses produksi paving block.
Inilah semangat ekonomi sirkular yang mulai tumbuh di Empoang Selatan. Sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai masalah, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Melalui pengolahan yang berkelanjutan, gerakan ini membuka peluang bagi berkembangnya kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Gerakan yang dipimpin Lurah Empoang Selatan bersama masyarakat tersebut menjadi contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana: memungut sampah, memilahnya, mengumpulkannya, dan memastikan sampah tersebut mendapatkan penanganan yang tepat. Ketika kepedulian lingkungan bertemu dengan inovasi pengolahan, gotong royong bukan hanya menghasilkan kawasan yang lebih bersih, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan ekonomi sirkular di tingkat kelurahan. (*)









