Turateanews.com — Berangkat dari potensi tanaman lontar yang tumbuh di Kabupaten Jeneponto, Karang Taruna Kelurahan Panaikang, Kecamatan Binamu, menghadirkan Gollai, produk gula merah cair yang mengangkat kekayaan lokal sekaligus membuka peluang pemberdayaan petani dan pemuda. Selasa, 13 Oktober 2026.
Gollai hadir sebagai salah satu produk olahan berbahan dasar nira lontar atau siwalan yang disadap langsung dari pohon oleh para petani. Produk ini memiliki karakteristik tersendiri, mulai dari warna yang relatif jernih, tampilan yang menarik, hingga aroma harum khas yang membedakannya dari gula merah pada umumnya.
Di balik kemunculan produk ini, terdapat upaya untuk mengembangkan potensi tanaman lontar menjadi produk bernilai tambah. Tanaman yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jeneponto tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui inovasi pengolahan dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Agus, selaku inisiator ketua Karang Taruna Kelurahan Panaikang sekaligus tokoh utama dalam pengembangan produksi Gollai, berupaya membangun usaha ini dengan melibatkan dan membina sejumlah petani penyadap nira lontar. Keterlibatan petani menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Bagi pengembangan Gollai, keberlanjutan produksi tidak hanya bergantung pada kemampuan mengolah bahan baku, tetapi juga pada konsistensi kualitas, kapasitas produksi, dan dukungan terhadap para petani. Karena itu, pembinaan yang berkesinambungan dinilai penting agar produk ini dapat terus berkembang tanpa kehilangan karakteristik khasnya.
*Membutuhkan Pembinaan dan Penguatan Kemasan*
Meski telah mulai dipasarkan dan masuk ke sejumlah gerai, termasuk gerai Dekranasda, Gollai masih membutuhkan dukungan lebih luas agar mampu menjangkau pasar yang lebih besar.
Agus berharap berbagai pihak dapat memberikan pembinaan yang serius, baik kepada petani sebagai pemasok bahan baku, pengelola rumah produksi, maupun dalam pengembangan kemasan yang lebih menarik dan memenuhi kebutuhan pasar.
Menurutnya, kualitas produk perlu diiringi dengan kemasan yang mampu meningkatkan daya tarik dan nilai jual. Dengan demikian, Gollai tidak hanya dikenal sebagai produk lokal, tetapi juga memiliki daya saing untuk diterima oleh berbagai kalangan konsumen.
Penguatan kapasitas produksi, standardisasi mutu, pendampingan usaha, serta pengembangan strategi pemasaran menjadi sejumlah kebutuhan yang perlu mendapat perhatian. Dukungan tersebut juga penting untuk memastikan proses produksi dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
*Peluang Kolaborasi Dunia Usaha dan Program CSR*
Pengembangan Gollai juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, lembaga pendamping UMKM, perguruan tinggi, serta dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau *Corporate Social Responsibility* (CSR).
Dukungan CSR dapat diarahkan pada peningkatan kapasitas petani, penguatan rumah produksi, perbaikan peralatan pengolahan, pengembangan desain kemasan, hingga perluasan akses pemasaran. Pendampingan yang terencana diharapkan mampu menjawab kebutuhan usaha secara bertahap sesuai dengan kapasitas dan potensi yang dimiliki.
Lebih dari sekadar produk pangan lokal, Gollai berpotensi menjadi contoh bagaimana sumber daya alam daerah dapat diolah melalui inovasi, kreativitas, dan keterlibatan generasi muda.
Kehadiran Karang Taruna dalam pengembangan produk ini menunjukkan bahwa pemuda memiliki ruang strategis untuk ikut menggerakkan ekonomi masyarakat, terutama ketika potensi lokal dipadukan dengan semangat kewirausahaan dan kemitraan.
Dengan dukungan yang tepat, Gollai diharapkan dapat terus tumbuh sebagai produk unggulan berbasis lontar dari Jeneponto. Pengembangannya bukan hanya tentang memperluas pasar, melainkan juga menjaga keberlanjutan mata pencaharian petani, memperkuat usaha masyarakat, serta menghadirkan nilai tambah bagi potensi lokal Bumi Turatea. (*)









