PORDASI Jeneponto Bangkit dari Kevakuman, Pacuan Kuda Ditargetkan Digelar Oktober 2026

Senin, 7 September 2026 - 10:43 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Turateanews.com — Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) Kabupaten Jeneponto kembali menggeliat setelah mengalami kevakuman kepengurusan selama bertahun-tahun.

Kepengurusan baru yang kini dinakhodai Sulfiadi,. sebagai Ketua Umum dan Supardi Mallarangeng sebagai Ketua Harian membawa semangat baru untuk menghidupkan kembali olahraga berkuda sekaligus mengangkat kuda sebagai salah satu ikon kebanggaan Kabupaten Jeneponto.

Kebangkitan tersebut tidak berhenti pada terbentuknya kepengurusan. PORDASI Jeneponto mulai menyusun sejumlah agenda konkret, termasuk rencana pelantikan pengurus dan persiapan kompetisi pacuan kuda yang ditargetkan berlangsung pada 4 Oktober 2026 di arena pacuan kuda Tanatoa, Kecamatan Bangkala.

Supardi Mallarangeng mengungkapkan, lahirnya kembali PORDASI Jeneponto berawal dari kepedulian sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan olahraga berkuda di daerah berjuluk Butta Turatea tersebut.

Menurutnya, proses pembentukan kepengurusan baru tidak semata-mata didorong oleh kecintaan terhadap kuda, tetapi juga oleh keinginan untuk melihat potensi besar Jeneponto dalam olahraga berkuda kembali mendapatkan ruang pembinaan dan kompetisi yang berkelanjutan.

“Jangan biarkan Bupati bekerja sendiri, jangan biarkan orang baik bekerja sendiri,” demikian semangat yang menjadi salah satu landasan dalam mendorong terbentuknya kepengurusan baru PORDASI Jeneponto.

Semangat tersebut kemudian mendapat respons positif dari Sulfiadi yang akhirnya menyatakan kesiapan mengemban amanah sebagai Ketua Umum PORDASI Jeneponto. Menurut Supardi, sikap tersebut menunjukkan bahwa kepengurusan baru tidak dibangun atas kepentingan pribadi, melainkan atas kepedulian untuk mengembangkan olahraga berkuda di Jeneponto.

Bahkan, komitmen itu telah mulai diwujudkan. Supardi menyebut Sulfiadi secara pribadi telah mentransfer dana sebesar Rp17 juta untuk membantu pembenahan arena pacuan kuda di Tanatoa, Kecamatan Bangkala.

Dukungan tersebut menjadi salah satu bukti awal bahwa kepengurusan baru ingin segera bergerak. Arena pacuan kuda dipandang sebagai salah satu infrastruktur penting untuk menghidupkan kembali tradisi kompetisi sekaligus membuka ruang pembinaan atlet dan kuda pacu di Jeneponto.

Jika tidak ada kendala, PORDASI Jeneponto menargetkan pelaksanaan kompetisi pacuan kuda pada Oktober 2026. Agenda tersebut diharapkan menjadi penanda awal kebangkitan kembali olahraga berkuda setelah sekian lama tidak memiliki aktivitas organisasi yang berjalan secara optimal.

Target tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa PORDASI Jeneponto tidak ingin terlalu lama berada pada fase konsolidasi. Setelah musyawarah dan terbentuknya kepengurusan baru, organisasi ini ingin segera menghadirkan kegiatan nyata yang dapat dirasakan komunitas berkuda dan masyarakat luas.

Langkah tersebut memiliki pijakan yang kuat. Jeneponto selama ini dikenal memiliki tradisi peternakan dan olahraga berkuda yang kuat. Bahkan, Ketua Umum PORDASI pada pelantikan PORDASI Sulawesi Selatan beberapa tahun lalu pernah menyebut Jeneponto sebagai salah satu daerah yang memiliki tradisi berkuda sangat kuat sekaligus dikenal sebagai salah satu sentra kuda di Indonesia.

Sejarah kompetisi pacuan kuda di Jeneponto juga bukan sesuatu yang baru. Pada 2016, misalnya, Kejurda Pacuan Kuda Bangkala Cup I di arena pacuan kuda Kalimporo, Kecamatan Bangkala, diikuti sedikitnya 94 ekor kuda dari berbagai daerah di Sulawesi dan kawasan sekitarnya. Saat itu, pacuan kuda tidak hanya dipandang sebagai olahraga, tetapi juga sebagai hiburan rakyat dan bagian dari budaya masyarakat.

Tradisi tersebut bahkan masih terlihat dalam agenda olahraga berkuda beberapa tahun terakhir. Pada Oktober 2025, arena pacuan kuda Kalimporo kembali menjadi lokasi babak kualifikasi Pra-Porprov XVIII cabang pacuan kuda yang menghadirkan peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Karena itu, hadirnya kembali PORDASI Jeneponto dinilai memiliki arti lebih besar daripada sekadar membentuk organisasi olahraga. Ada pekerjaan besar untuk menghubungkan kembali tradisi, pembinaan, prestasi, peternakan kuda, ekonomi masyarakat hingga potensi wisata olahraga.

Supardi mengatakan, PORDASI Jeneponto ke depan diharapkan benar-benar menjadi lokomotif pengembangan berbagai cabang olahraga berkuda. Tidak hanya pacuan kuda, tetapi juga disiplin lainnya seperti pedestrian atau equestrian, jumping, hingga horseback archery.

“Harapan kita PORDASI ini betul-betul menjadi lokomotif dari ikon dan kebanggaan kita terhadap kuda,” ujar Supardi dalam keterangannya.

Harapan itu sejalan dengan perkembangan olahraga berkuda di Sulawesi Selatan yang mulai diarahkan tidak hanya pada kompetisi, tetapi juga pembinaan dan pengembangan ekosistem kuda secara lebih luas. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, misalnya, telah menjalin kolaborasi dengan PORDASI Sulsel dan asosiasi peternak kuda untuk mendukung pengembangan kuda di Jeneponto, termasuk aspek breeding, budidaya dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Bagi Jeneponto, momentum tersebut membuka peluang besar. Kuda tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas atau bagian dari kehidupan masyarakat, tetapi dapat dikembangkan menjadi kekuatan olahraga, budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif.

Karena itu, pelantikan kepengurusan baru yang ditargetkan dapat terlaksana dalam waktu dekat menjadi langkah awal untuk memastikan roda organisasi benar-benar berjalan. Setelah itu, kompetisi pacuan kuda pada Oktober di Tanatoa diharapkan menjadi panggung pertama untuk menunjukkan bahwa PORDASI Jeneponto telah kembali.

Setelah sekitar satu dekade mengalami kevakuman kepengurusan, PORDASI Jeneponto kini kembali dengan pekerjaan rumah yang tidak kecil. Tantangannya adalah menjaga agar kebangkitan ini tidak berhenti pada seremoni pelantikan, tetapi berubah menjadi gerakan pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan.

Sebab, ketika kuda telah menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Jeneponto, maka menghidupkan kembali PORDASI sesungguhnya bukan hanya menghidupkan sebuah organisasi olahraga. Lebih dari itu, ia adalah upaya menghidupkan kembali salah satu denyut kebudayaan dan potensi besar Butta Turatea. (*)

Berita Terkait

Antara Antrean BBM dan Amplop Undangan, Potret Ketangguhan Masyarakat Turatea
DPRD CUP I Resmi Bergulir, Semangat Persaudaraan dan Prestasi Menggema dari Lapa Eja Tarowang
Kapolsek Kelara Perkuat Silaturahmi, Ajak Jamaah Bersinergi Jaga Kamtibmas
Antrean BBM Belum Terurai, Publik Mempertanyakan Solusi Darurat
Sungguh Miris, Saya Menyaksikan Guru SD Menjelang Pensiun Harus Antre Urutan 120 Demi 2 Liter Pertalite
Semarakkan HUT ke-49, BKPRMI Jeneponto Gelar Donor Darah di Lokasi Car Free Day
Di Tengah Kelelahan Antrian dan Kelangkaan, Masyarakat Menunggu Jawaban atas Krisis Energi yang Tak Kunjung Usai
TDA Jeneponto Siapkan Ekosistem Pengusaha Bertumbuh Melalui Kickoff Kepengurusan 9.0
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 11:01 WIB

Antara Antrean BBM dan Amplop Undangan, Potret Ketangguhan Masyarakat Turatea

Selasa, 15 September 2026 - 09:14 WIB

DPRD CUP I Resmi Bergulir, Semangat Persaudaraan dan Prestasi Menggema dari Lapa Eja Tarowang

Selasa, 15 September 2026 - 09:07 WIB

Kapolsek Kelara Perkuat Silaturahmi, Ajak Jamaah Bersinergi Jaga Kamtibmas

Selasa, 15 September 2026 - 07:45 WIB

Antrean BBM Belum Terurai, Publik Mempertanyakan Solusi Darurat

Senin, 14 September 2026 - 11:54 WIB

Sungguh Miris, Saya Menyaksikan Guru SD Menjelang Pensiun Harus Antre Urutan 120 Demi 2 Liter Pertalite

Berita Terbaru