Turateanews.com – Fenomena ungkapan “Apa itu…” di media sosial memang sering jadi cara paling jujur, sekaligus getir untuk menggambarkan kondisi psikologis dan sosial kita hari ini.
Di Kabupaten Jeneponto, ungkapan ini menemukan panggungnya saat “musim pesta” tiba.
Seketika, linimasa dan obrolan warung kopi diwarnai cerita tentang segepok amplop, tumpukan kartu undangan yang menumpuk di meja, hingga ritme harian yang berubah total.
Pasca Iduladha atau musim haji, Jeneponto seolah disapu gelombang hajatan yang tiada putusnya. Dari pesta kampung hingga gedung megah, dari perayaan pernikahan, khitanan, hingga akikah, semuanya berderet padat selama berbulan-bulan.
Musim pesta di tanah Turatea pada dasarnya adalah panggung kesyukuran dan kegembiraan. Ia adalah momentum mempererat tali silaturahmi, merayakan fase hidup baru, dan merawat tradisi annyori, kehadiran penuh kasih untuk menyemarakkan kebahagiaan kerabat dan tetangga.
Suasana gotong royong, kehangatan menyapa sanak saudara, serta keriuhan hiburan malam adalah sisi indah yang selalu dirindukan.
Namun, di balik riuhnya musik hiburan dan kepulan asap dapur pesta, ada realita sosial yang tak kalah riuh. Annyori bukan sekadar melangkahkan kaki dan mengumbar senyum, melainkan ada konsekuensi “amplop” atau persembahan yang menyertainya.
Nominalnya pun seolah berbanding lurus dengan kedekatan garis kekerabatan, status sosial, hingga jabatan politik. Bagi pejabat publik atau tokoh masyarakat, ekspektasi kehadiran dan “isi amplop” tentu berlipat ganda.
Bahkan bagi masyarakat biasa, para petani yang menggantungkan hidup pada musim panen—pesta yang datang serentak bisa menuntut alokasi beras hingga tabungan yang tak sedikit.
Ketika dalam sehari seseorang bisa menerima 5 hingga 10 undangan, kalkulasi matematisnya mulai tidak rasional. Pengeluaran untuk mengisi amplop kerap melampaui pendapatan bulanan. Di sinilah letak satire dari ungkapan “musim pesta”: sebuah perayaan yang sejatinya melambangkan kelimpahan, justru diiringi helatan napas panjang akibat sesaknya dompet.
Pada akhirnya, musim pesta di Jeneponto selalu berdiri di antara dua sisi mata uang, kebahagiaan yang meluap dan pengorbanan yang tidak murah.
Ia menjadi cermin betapa tingginya penghargaan masyarakat terhadap nilai kebersamaan dan kehormatan sosial, walau harus dibayar dengan senyum getir di akhir bulan, sebuah tradisi indah yang terus hidup, sekaligus menjadi bahan renungan hangat di antara seduhan kopi kita hari ini. (*)










