Lima Menit yang Bisa Mengubah Masa Depan: Mengapa GEMA LIPA Layak Menjadi Budaya Sekolah

Minggu, 9 Agustus 2026 - 06:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Turateanews.com —Ada kebiasaan sederhana yang sering kali dianggap kecil, tetapi sesungguhnya memiliki kekuatan besar : membaca.

Tidak membutuhkan teknologi canggih. Tidak membutuhkan anggaran besar. Bahkan tidak membutuhkan waktu yang panjang.

Cukup lima menit. Dari gagasan sederhana itulah Gerakan Membaca Lima Menit Pagi (GEMA LIPA) hadir sebagai sebuah inovasi sekolah untuk menumbuhkan budaya membaca di kalangan peserta didik. Program yang mulai dilaksanakan pada 2025 ini menempatkan aktivitas membaca sebagai bagian dari kebiasaan sebelum pembelajaran dimulai.

Pertanyaannya kemudian, apakah lima menit membaca setiap pagi benar-benar dapat membuat perubahan?Jawabannya mungkin bukan sesuatu yang bisa dilihat dalam satu atau dua hari.

Namun pendidikan memang tidak selalu bekerja dengan perubahan yang instan. Karakter, kebiasaan, minat belajar dan kemampuan literasi dibangun melalui proses yang berulang.
Dan di situlah letak penting GEMA LIPA.

Literasi sering kali dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, membaca membuka pintu yang jauh lebih luas.

Anak yang terbiasa membaca memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenal berbagai gagasan, memperluas wawasan, membangun kemampuan berpikir kritis dan menumbuhkan rasa ingin tahu.

Bahan inovasi GEMA LIPA sendiri menempatkan kemampuan literasi sebagai fondasi penting dalam proses pembelajaran dan pembentukan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Karena itu, membangun budaya membaca seharusnya tidak hanya menjadi tugas guru bahasa atau perpustakaan sekolah.

GEMA LIPA mencoba memulai dari titik yang sangat sederhana: lima menit setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai.

Ada perbedaan besar antara meminta anak membaca dan membangun kebiasaan membaca.
Meminta anak membaca dapat dilakukan sekali. Tetapi membangun kebiasaan membutuhkan konsistensi.

GEMA LIPA memilih pendekatan pembiasaan. Peserta didik membaca buku nonpelajaran selama lima menit setiap pagi, memanfaatkan pojok baca kelas, mengisi jurnal membaca, kemudian menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca.

Tidak berhenti di sana, sekolah juga dapat memberikan penghargaan kepada pembaca aktif serta mengembangkan pameran dan lomba literasi.

Bagi sebagian orang, lima menit mungkin terasa terlalu singkat.
Namun dalam konteks pendidikan, lima menit yang dilakukan setiap hari jauh lebih bermakna dibandingkan satu kegiatan membaca besar yang hanya dilakukan sesekali.

Kebiasaan besar memang sering kali lahir dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Hal menarik dari GEMA LIPA adalah keterlibatan seluruh warga sekolah.

Program ini tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga melibatkan guru dan masyarakat sekitar serta membuka ruang penggunaan berbagai jenis bahan bacaan.

Ini penting.
Sebab anak akan lebih mudah mencintai membaca apabila lingkungan di sekitarnya juga memberikan contoh bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan dan bernilai.

Sekolah yang kaya literasi pada akhirnya bukan sekadar sekolah yang memiliki banyak buku. Lebih dari itu, sekolah literat adalah sekolah yang menciptakan suasana di mana membaca, bertanya, berdiskusi dan belajar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Manfaat membaca tidak berhenti pada bertambahnya jumlah halaman yang dibaca.
Bahan inovasi GEMA LIPA menargetkan terbentuknya karakter disiplin, mandiri dan gemar belajar, sekaligus memperkuat budaya positif di sekolah.

Di sinilah membaca menjadi lebih dari sekadar aktivitas akademik.
Ketika seorang anak terbiasa mengambil buku, menyediakan waktu untuk membaca, menyelesaikan bacaan dan menceritakan kembali apa yang dipahaminya, sesungguhnya ia sedang belajar tentang konsistensi, tanggung jawab, keberanian menyampaikan pendapat dan kemampuan memahami informasi.

Lima menit membaca akhirnya bukan hanya soal lima menit.
Ia adalah latihan kecil untuk membangun karakter.

Namun, seperti halnya setiap gerakan pembiasaan, tantangan GEMA LIPA bukan terletak pada bagaimana memulai.
Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mempertahankannya.

Program literasi akan kehilangan makna apabila hanya menjadi kegiatan seremonial. Karena itu, keberlanjutan menjadi kunci.

GEMA LIPA diarahkan untuk membentuk budaya membaca di sekolah, meningkatkan jumlah peserta didik yang gemar membaca, meningkatkan kemampuan literasi, menciptakan lingkungan sekolah yang literat dan menyenangkan, serta mewujudkan sekolah sebagai komunitas pembelajar sepanjang hayat.

Target tersebut menunjukkan bahwa inovasi ini tidak berhenti pada kegiatan lima menit.
Lima menit hanyalah pintu masuk.

Di tengah kecenderungan mengidentikkan inovasi dengan aplikasi digital, teknologi canggih atau sistem yang kompleks, GEMA LIPA memberikan perspektif yang berbeda.

Inovasi pendidikan dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: membiasakan anak membaca lima menit sebelum belajar.

Nilai inovasinya justru terletak pada bagaimana kebiasaan sederhana tersebut dirancang, dilakukan secara konsisten, melibatkan warga sekolah, dan diarahkan untuk menghasilkan perubahan budaya belajar.

Barangkali inilah pesan paling penting dari GEMA LIPA.
Bahwa perubahan dalam pendidikan tidak selalu membutuhkan langkah yang besar.

Kadang-kadang, perubahan dimulai ketika seorang guru berkata kepada muridnya : “Sebelum kita mulai belajar hari ini, mari membaca.”

Lima menit kemudian, pelajaran dimulai.
Tetapi jika dilakukan setiap hari, lima menit itu mungkin perlahan-lahan mengubah cara seorang anak melihat buku, pengetahuan dan dunia.

Dan jika kebiasaan itu tumbuh pada satu kelas, kemudian satu sekolah, lalu menyebar menjadi budaya, maka lima menit yang sederhana itu dapat menjadi investasi panjang bagi lahirnya generasi pembelajar sepanjang hayat. (*)

Berita Terkait

Haru dan Penuh Makna, Kepala KUA Kelara Berpamitan dalam Upacara Hari Kesadaran Nasional
Perkuat Standar Mutu, LSPro UPT BPMPP Sulsel Matangkan Re-Akreditasi ISO 17065:2012
Komitmen Bersama Perkuat PAUD Holistik Integratif, TK LP2 AUD Belay Kasih Teken MoU Lintas Sektor
Antara Antrean BBM dan Amplop Undangan, Potret Ketangguhan Masyarakat Turatea
DPRD CUP I Resmi Bergulir, Semangat Persaudaraan dan Prestasi Menggema dari Lapa Eja Tarowang
Kapolsek Kelara Perkuat Silaturahmi, Ajak Jamaah Bersinergi Jaga Kamtibmas
Antrean BBM Belum Terurai, Publik Mempertanyakan Solusi Darurat
Sungguh Miris, Saya Menyaksikan Guru SD Menjelang Pensiun Harus Antre Urutan 120 Demi 2 Liter Pertalite
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 14:49 WIB

Haru dan Penuh Makna, Kepala KUA Kelara Berpamitan dalam Upacara Hari Kesadaran Nasional

Kamis, 17 September 2026 - 10:01 WIB

Perkuat Standar Mutu, LSPro UPT BPMPP Sulsel Matangkan Re-Akreditasi ISO 17065:2012

Kamis, 17 September 2026 - 09:26 WIB

Komitmen Bersama Perkuat PAUD Holistik Integratif, TK LP2 AUD Belay Kasih Teken MoU Lintas Sektor

Selasa, 15 September 2026 - 11:01 WIB

Antara Antrean BBM dan Amplop Undangan, Potret Ketangguhan Masyarakat Turatea

Selasa, 15 September 2026 - 09:14 WIB

DPRD CUP I Resmi Bergulir, Semangat Persaudaraan dan Prestasi Menggema dari Lapa Eja Tarowang

Berita Terbaru