Turateanews.com — Bukan sekadar makan bersama, kunjungan Karaeng Gassing bersama jamaah Masjid Agung Kabupaten Jeneponto, pengurus takmir dan Yayasan Masjid Agung ke Warung Gantalajarang Pelita menjadi pesan sederhana namun kuat: UMKM lokal harus didukung, kuliner khas daerah harus dihidupkan, dan ruang-ruang ekonomi masyarakat harus terus diramaikan.
Warung Gantalajarang Pelita yang baru saja dilaunching pada Kamis, 3 September 2026, langsung mendapat perhatian dari masyarakat. Kehadiran Karaeng Gassing bersama jamaah Masjid Agung, Jumat 4 September 2026 menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap geliat usaha kuliner yang tengah tumbuh di Kabupaten Jeneponto.
Terletak di Jalan Pelita, Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, warung tersebut menawarkan gantalajarang sebagai salah satu kuliner khas Jeneponto yang identik dengan olahan daging kuda.
Berbagai pilihan kuliner tersedia, mulai dari konro kuda, konro sapi, coto ayam, coto kuda, hingga aneka minuman. Pilihan menu yang beragam membuat Warung Gantalajarang Pelita tidak hanya menyasar pencinta kuliner khas Jeneponto, tetapi juga masyarakat yang ingin menikmati makanan secara santai bersama keluarga, sahabat dan komunitas.
Ada hal yang lebih menarik dari sekadar hadirnya sebuah warung makan.
Kehadiran Warung Gantalajarang Pelita ikut mempertegas perubahan wajah Jalan Pelita yang dalam beberapa waktu terakhir mulai berkembang menjadi salah satu kawasan kuliner yang cukup ramai di Jeneponto.
Deretan usaha kuliner yang terus bermunculan memberikan warna baru bagi kawasan tersebut.
Jika geliat ini terus dirawat, ditata dan dikembangkan secara bersama-sama, bukan tidak mungkin Jalan Pelita akan tumbuh menjadi semacam “Malioboro-nya Jeneponto” sebuah ruang publik yang tidak hanya menjadi tempat lalu-lalang masyarakat, tetapi juga menjadi pusat kuliner, interaksi sosial, UMKM dan aktivitas ekonomi kreatif masyarakat.
Tentu, menjadi “Malioboro Jeneponto” bukan semata soal banyaknya warung atau panjangnya sebuah jalan.
Lebih dari itu, diperlukan identitas kawasan, penataan lingkungan, kebersihan, kenyamanan, pencahayaan, ruang bagi UMKM, promosi kuliner lokal serta keterlibatan pemerintah dan masyarakat.
Dan Jalan Pelita tampaknya sedang menuju ke arah tersebut.
Kunjungan Karaeng Gassing bersama jamaah Masjid Agung memberikan contoh bahwa dukungan terhadap UMKM dapat dimulai dari hal yang sangat sederhana: datang, membeli, menikmati dan mengajak orang lain untuk ikut menikmati produk lokal.
Sebab bagi pelaku UMKM, ramainya pembeli bukan hanya soal omzet hari itu.
Di balik satu porsi makanan yang terjual, ada dapur yang terus menyala, ada bahan baku yang dibeli dari masyarakat, ada tenaga kerja yang mendapatkan penghasilan, dan ada harapan agar usaha kecil tersebut bisa bertahan dan berkembang.
Karena itu, semakin banyak masyarakat yang memilih kuliner lokal, semakin besar pula peluang perputaran ekonomi terjadi di tengah masyarakat sendiri.
Pesan Kiai Zainuddin: Enaknya Makan Itu Bersama-sama
Suasana kebersamaan dalam kunjungan tersebut semakin terasa melalui pesan Al-Mukarram Kiai Zainuddin yang sederhana, tetapi mengena.
“Kalau mau makan enak, ya makannya di warung. Tapi kalau mau enak makan, ya makannya rame-rame.”
Kalimat tersebut seolah menjadi filosofi sederhana dari kunjungan jamaah Masjid Agung ke Warung Gantalajarang Pelita.
Makanan mungkin bisa dinikmati seorang diri.
Tetapi kenikmatan, silaturahmi dan keberkahan kebersamaan akan terasa berbeda ketika makan dilakukan bersama-sama. (*)










